Untukmu, Pahlawan Kemerdekaan Indonesia. Mohammad Hatta,
Sang pelopor Koperasi.
Sore, Bung. Salam penuh hormat dariku, gadis labil yang baru saja menginjak masa remaja. Maaflah jika aku menyita sedikit waktu dengan sepucuk surat penuh kesah ini. Begitu kagumnyaaku padamu hingga kususun kata demi kata pada setiap bait surat ini. Ditemani dengan secangkir teh hangat dalam dinginnya malam. Disertai dengan embun air hujan dan suara kodok yang saling menyahut satu sama lain.
Semangat perjuanganmu itu telah membawa puncak kemenangan pada sang Saka Merah Putih sungguh amat terima kasih tiada tara ku ujarkan kepadamu, Bung. Hingga kita semua- cicit dari pejuang kemerdekaan ini bisa merasakan kehidupan yang lebih dari kata layak.
Tahu tidak, Bung? Ada banyak yang ingin aku obrolkan denganmu. Tentang bagaimana negara ini berjalan, tentang bagaimana masa depan Negara tercintaku, Indonesia. Maka jika boleh izinkan aku menuliskan beberapa bait kata untuk menuntaskan keluh kesahku.
Apa kau pernah membayangkan Negri yang kau perjuangkan ini terkena permasalahan ekonomi Bung? Sayangnya. Itu telah terjadi sekarang.
Akhir akhir ini. Aku sering melihat ibuku mengeluh, mengusap dahinya yang berkeringat karena lelah bekerja. Sambil menggenggam beberapa lembar rupiah. Raut mukanya masam, menghitung biaya yang tadi ia gunakan untuk berbelanja.
"Duh, semuanya menjadi sangat mahal sekarang."
Pun, dengan ayahku. Sering ku lihat beliau duduk termenung di teras depan rumah, kopi yang sudah kubuat sepenuh hati belum juga diminumnya. Sibuk bertengkar dengan isi kepalanya sendiri kebingungan untuk bagaimana cara menghidupi satu istri dan dua anaknya yang sudah besar ini.
Saat ku buka berita yang ada di televisi. Barulah ku mengerti kenapa ibu selalu mengeluh dan ayah selalu termenung sedih. Harga pasar naik secara tidak wajar. Semua barang dan jasa yang dijajakan bertambah mahal berkali kali lipat. Untuk seukuran remaja seumuranku, aku tentu mengerti apa yang sedang terjadi di negara ini, seperti yang diajarkan oleh guru IPS ku ini Inflasi.
Aku, sebagai remaja yang penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Memutuskan untuk mencari tahu beberapa hal mengenai perekonomian negara ini. Jadi, nekat sudah aku untuk pergi sendirian, ditemani motor yang biasa kupakai di sekolah. Pergi ke sebuah tempat perbelanjaan tradisional di daerahku.
Bung, bukan hanya Inflasi yang mencemari negara tercinta kita ini. Kau tau? Begitu aku
berada di sana, banyak sekali anak anak berpakaian compang camping, bersama para orang-orang tua, memulung dan meminta minta uang di pinggir jalan. Lebih dari dua puluh tiga juta jiwa di negara ini mengalami kemiskinan. Akibat sedikitnya
lapangan pekerjaan yang disediakan. Tujuh juta anak muda tidak mendapatkan pekerjaan, menjadi penhangguran. Mereka bahkan tak memiliki seperpun uang tuk makan sehari hari. Terkadang. Ku lihat juga sepasang suami istri yang kurang mampu, memiliki lebih dari tiga anak. Sehari hari mereka hanya memulung sampah dan makan dengan nasi putih. Hidup di gubuk reot yangdikelilingi oleh sampah yang sangat bau. Lebih pilu lagi, ketika aku sedang menjelajahi sosial media. Seorang istri yang sedang hamil tua diberi uang harian hanya sepuluh ribu oleh sang suami. Yang bahkan tidak benar benar
mencukupi untuk membuat sarapan dalam sehari. Tidak peduli pada si jabang bayi yang butuh nutrisi agar bisa lahir dengan sehat. Bung, sungguh mencelos hatiku saat itu juga. Ternyata, semua itu terjadi karena kurangnya
pendidikan bagi sebagian orang. Mereka yang menyepelekan belajar, tidak peduli akan pendidikan dan terus merangkak dalam jerat kemiskinan. Bung Hatta. Jika kau masih ada disini, pasti takkan kau biarkan inflasi ini terus menjajah
Negara kita. Pasti takkan kau biarkan dua puluh tiga juta jiwa itu terperangkap dalam
kemiskinan. Pasti takkan kau biarkan lapangan pekerjaan ini terus menyempit setiap detik. Pasti takkan kau biarkan seorang istri yang hamil tua itu hanya diberi uang harian sepuluh ribu olehu suaminya Saat itu juga aku pulang ke rumah. Menutup pintu kamarku, merenung di balik selimut
hangatku. Negara ini sudah sangat sakit. Dengan perekonomian yang tidak stabil, Banyak orang yang bersusah payah melakukan apapun untuk mendapatkan selembar rupiah, rela kehilangan
waktu istirahatnya haya demi uang tambahan. Dan ternyata mereka harus bekerja lebih keras, karena harga barang baku yang sedang naik. Namun, di detik itu juga aku sadar. Kau telah memberikan semangat membara untuk ku- untuk semua generasi emas Indonesia. Untuk berusaha maju. Menghempas kemiskinan dengan
banyak cara yang bisa kita lakukan sebagai manusia, yang ditakdirkan untuk menjadi makhluk sosial Bung Hatta. Terimakasih karena sudah memperjuangkan dan mengembangkan sistem ekonomi Menjadikan koperasi sebagai alternatif terhadap kapitalisme. Telah menjadi pelopor
dan Arsitek untuk pasal 33 Undang Undang Dasar tahun 45 yang menekankan prinsip keuangan. Kau begitu gigih memperjuangkan koperasi demi menjadi pondasi ekonomi. Mendorong terciptanya demokrasi ekonomi. Dan dengan berani ku tuliskan bahwa kau benar benar gigih
mengusahakan konsep konsep untuk perekonomian rakyat. Kau juga sangat menekankan pendidikan bagi rakyatmu. Kau ingin kami kelak membangun
bangsa yang mandiri, cerdas dab sejahtera secara ekonomi. Dan dengan pendidikan. Kau membangun karakter bangsa yang kuat dan bermoral. Sungguh kau benar benar orang yang sangat teladan, Bung. Berkatmu, Aku sadar. Ini saatnya untuk bangkit. Menjalankan semangatmu yang membara. Melanjutkan perjalananmu untuk menjadikan bangsa ini sebagai negara yang maju. Melanjutkan perjuanganmu dengan terus menimba ilmu dengan giat. Mencari ilmu kesana kemari, bak gelas kosong yang haus akan ilmu pengetahuan.
Akan ku mulai dari diriku, bangkit perlahan demi perlahan. Untuk Ayah dan Ibuku, untuk perekonomian negara ini. Untuk kehidupan dua puluh tiga juta jiwa rakyat miskin, untuk mereka yang belum mendapatkan pekerjaan secara layak. Untuk bangsa tercintaku, sang Saka Merah Putih Hai, Pak Hatta. Terima kasih sudah menyadarkanku akan pentingnya hal hal yang kukira sepele Terima kasih karena telah berjuang mati matian demi sesuatu yang akan kami nikmati. Terima kasih karena sudah pernah menjadi wakil negara kami. Beristirahatlah dengan tenang, Pahlawanku.
-Salam hangat. Aku, si rakyat kecil. Washfa Ery Setya
