Teruntuk : KH. Abdurrahman Wahid
Hai Bapak Pluralisme..... Bagaimana kabar Bapak di sana? Pasti Bapak sudah tenang ya di sana. Semoga Bapak ditempatkan di sisi terbaik oleh Yang Maha kuasa. Aminn...
Kami amat sangat berterima kasih kepada Bapak atas jasa yang telah anda lakukan kepada Indonesia seperti penghapusan deskriminasi, pencabutan larangan Imlek dan lainnya. Sampai bahkan Anda mendapat julukan sebagai “Bapak Pluralisme" Saat saya mendengar itu sungguh sangat bangga diriku kepada Bapak karena jasa-jasa yang telah anda lakukan bisa dianut oleh anak-anak bangsa saat ini. Namun, di sisi lain pada saat ini saya sangat khawatir. Bapak tahu kenapa? Karena banyak sekali deskriminasi maupun perpecahan di Indonesia yang muncul dari berbagai faktor, seperti perbedaan suku, ras, agama, dan pandangan politik, yang sering kali berakar dari sejarah kolonial Belanda secara aktif mengadu domba kerajaan dan kelompok-kelompok di Nusantara melalui politik untuk mempertahankan dan memperluas penjajahannya di Indonesia. Waktu itu, sebuah cuplikan singkat tentang pembakaran Gereja di wilayah padang, Sumatra Barat. Video itu bertunjuk pada bulan Juli 2025 kemarin, kericuhan di mana -mana. Masyarakat saling berpecah, ada yang melempari batu, memukul, dan merusak barang barang yang ada di dalam rumah ibadah bahkan ada dua anak yang terluka akibat perbuatan itu, banyak tersebar orang-orang yang tidak bertanggung jawab, mereka membuat berita hoax atu tidak benar yang bertujuan membodoh-bodohi bangsa Indonesia yang mudah percaya pada suatu berita tanpa peduli fakta dari berita tersebut.
Saya menulis surat ini karena saya ingin bercerita kepada Bapak, sebelum itu saya ingin bertanya sedikit kepada Bapak, saya pernah mendengar katanya Bapak sudah mencabut deskriminasi terhadap Tionghoa ya? Wah, Bapak keren sekali. Anda benar-benar mulia, menyatukan berbagai ras yang ada di Indonesia. Bahkan kau membela rakyat yang bahkan bukan dari suku atau golonganmu. Kau tak pernah pandang bulu dan selalu membela yang lemah.
Bapak juga tidak pantang menyerah ya ternyata, dalam menjalankan perjuangan untuk kemanusiaan dan pembelaan kelompok minoritas, sebagai rakyat Indonesia saya berjanji kepada diri saya sendiri agar bisa mengharumkan nama negeri Indonesia, Bapak mengingatkan saya pada suatu peristiwa yang pernah saya alami dahulu, dulu saat masih duduk di bangku sekolah dasar aku banyak memiliki teman yang berbeda-beda. Namun, yang paling menarik perhatian yang memiliki kulit gelap dan rambut ikal keluarganya berasal dari merauke yang sangat jauh di sana dan saya ingin mencoba berkenalan denganya dan ingin mengenal lebih dekat dengannya walaupun berbeda ras dan suku dan mungkin bisa mejadi sahabat luar pulau. bapak masih ada di sini dan melihat secara langsung pasti Bapak bangga bisa melihat saya meraih kemenangan untuk Indonesia.
Bapak dulu ternyata pembela minoritas ya lewat dialog antar agama, perjuangan hak sipil, dan penegakan manusia ya? Saya sangat termotivasi sekali dengan Bapak, karena Bapak meyakini bahwa perbedaan agama dan suku adalah sebuah keniscayaan yang harus diterima dan dirangkul secara aktif, bukan sekadar saling menghargai. Saya akan mencoba berubah perlahan-lahan dan akan menerapkan kebiasaan yang biasa Bapak lakukan untuk Indonesia sedikit demi sedikit. Saya akan menjadi generasi yang cerdas, berintegritas, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Sekali lagi untuk Bapak saya berterima kasih atas jasa-jasa anda yang telah membawa bangsa Indonesia sampai pada masa saat ini, berkat Bapak saya belajar banyak hal tentang kesabaran dan makna hidup.
-Salam hangat rakyatmu.