SURAT UNTUK R.A. KARTINI DARI NADIVA PUTRIYANA

Yang Terhormat R.A. Kartini


Terima kasih atas segala jasa-jasamu yang telah menjadi pahlawan emansipasi wanita Indonesia, Ibu. 

Berkat kegigihanmu, kami kaum perempuan di masa sekarang bisa menikmati kebebasan untuk bersekolah setinggi-tingginya dan berkarya tanpa batasan. 

Di tempat peristirahatan terakhir, semoga surat ini sampai kepada engkau wahai Ibu Kartini. Kami, generasi penerus di Indonesia, ingin bercerita tentang kondisi negara ini. Kami mohon maaf, sepertinya perjuangan berat yang telah Ibu lakukan, belum sepenuhnya usai. Terdapat deskriminasi kekerasan pada perempuan dan kesenjangan gender. Sungguh, kami tak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu, Ibu. Saat menghadapi tembok tebal yang memisahkanmu dari dunia luar dan kesempatan untuk berkembang. Namun, di balik penderitaan itu, ada semangat luar biasa yang tidak pernah padam. Engkau berani menentang pandangan masyarakat dan menyuarakan pendapat tentang hak-hak perempuan, didukung oleh kecerdasan dan wawasanmu yang luas itu wahai Ibu Kartini. Jika saja Ibu tahu, sekarang kami para perempuan, sudah bisa sekolah setinggi-tingginya. Kami bisa menulis, membaca, dan menyuarakan pendapat, itu semua berkat perjuanganmu Ibu. Tetapi, entah bagaimana ada tantangan baru yang membuatku khawatir. Fakta-fakta yang ada mengenai dari perempuan yang sekarang ini lebih mementingkan sosmed daripada belajar dan kekerasan terhadap wanita semakin merajalela karena menganggap wanita itu makhluk yang lemah. 

Dahulu, Ibu melawan tradisi yang menganggap wanita hanya boleh di dapur dan tidak perlu sekolah. Kini, bentuk kekerasannya berubah. Kami masih sering mendengar berita tentang perempuan yang menjadi korban kekerasan, bahkan di dunia maya. Kata-kata jahat yang dilontarkan di media sosial bisa membuat perempuan merasa lemah dan tidak berharga. Pandangan bahwa perempuan adalah kaum yang lemah juga masih ada, bahkan diperkuat di platform digital ini. Meski begitu, aku tidak ingin membuatmu khawatir, Ibu. Kami ingin menggunakan media sosial untuk menginspirasi, untuk melawan deskriminasi, dan untuk terus menggaungkan semangatmu. Kami belajar dari kata-katamu, "Habis Gelap Terbitlah Terang" untuk terus mencari cahaya di tengah tantangan ini. Kami tahu, perjuangan ini takkan berakhir. Kami akan terus melangkah, seperti yang Ibu inginkan. Ibu Kartini, semangatmu telah menjadi motivasi bagi kami untuk terus berjuang. Kami bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah engkau rebutkan. Kami akan terus belajar, berkarya, dan menjadi perempuan yang mandiri, cerdas, dan bermartabat. Kami akan terus berusaha melawan segala bentuk ketidakadilan dan deskriminasi yang masih ada agar impianmu tentang kesetaraan sejati bisa terwujud sepenuhnya. 

Sekali lagi, terima kasih wahai Ibu Kartini. Engkau adalah inspirasi abadi bagi seluruh perempuan Indonesia. Kami akan terus berjuang agar engkau bangga melihat "Kartini-Kartini" baru yang terus berkembang.


Kartini Muda- Nadiva Putriyana (2025)

SURAT UNTUK BAPAK PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA DARI MURID ANGGUN MUSTIKA SARI.

Teruntuk Bapak Ki Hadjar Dewantara


Halo, Bapak Pendidikan apakah engkau baik-baik saja di sana?

Bapak sekarang sudah berada di tempat yang tenang. Tapi, Bapak saat ini pasti tengah merenung dalam kesedihan bukan?

Bapak, aku ingin berkeluh kesah tentang apa yang aku rasakan dari dalam lubuk hati terdalam. Mungkin Bapak yang di sana sudah mengetahui apa ingin ku sampaikan. Aku tidak pernah lupa apa yang engkau perjuangkan mati- matian kepada anak-anak seperti kami untuk mendapatkan kebebasan untuk bisa belajar atau untuk bisa bermimpi berekspresi dalam pendidikan.

Ingatkah Bapak pernah membangun taman siswa. Hanya berawal dari taman siswa itu membuka jalan bagi kami pada suatu akses pendidikan. Pendidikan tanpa memandang suatu status. Aku salah satu murid yang telah menerima hasil jerih payahmu Bapak, saat ini aku berada di salah satu sekolah kejuruan dengan jurusan akuntansi jadi saat aku merasakan sebelas tahun pendidikan. 

Kata terima kasih tak akan pernah cukup untuk kepada Bapak yang telah memberikan kesempatan pada kami untuk mendapatkan suatu hak. Hak kami sebagai manusia untuk mendapatkan suatu pendidikan. Hanya saja kami telah menyia-nyiakan apa engkau berikan. Pada saat ini kami tidak tahu budi. Kami telah terlena akan kesenangan-kesenangan hingga melupakan apa yang terjadi di masa depan yang akan kami jalani. Kami lebih suka berlarut-larute bermain game ataupun menonton Tiktok dan YouTube dengan konten yang tidak memiliki edukasi sama sekali. Kami yang seharusnya membuka buku tapi malah lebih suka handphone. Mereka yang berfokus untuk belajar malah suka berkutat dengan sosmed, bahkan PR yang seharusnya dikerjakan denga kemampuan sendiri mereka lebih percaya pada AI tanpa memikirkan apa isi di dalamnya. Zaman memang telah berubah akankah teknologi-teknologi ini memberikan kemudahan atau pembodohan.

Ingatkah Bapak? Engkau pernah memiliki prinsip "Ing Ngarso Sung Tulodho" yang di depan memberikan contoh teladan. Di zaman siapa yang bisa kami jadikan sebagai contoh? Akankah setiap selebgram populer yang menjadi sorotan atau seorang guru yang dengan sabar menasehati mereka?

"Ing Madya Mangun Karso" yang di tengah memberikan semangat. Siapa yang akan memberikan semangat kepada kami ketika para murid telah pudar rasa hormat mereka kepada guru. 

"Tur Wuri Handayani" yang di belakang memberikan dorongan. Siapa yang mendorong kami untuk masa depan, jika mereka begitu malas untuk melakukan suatu inovasi. Hanya karena kemudahan kitae melupakan suatu hal paling penting yaitu keberhasilan yang lahir dari usaha. Dunia seolah lupa bagaimana dibodohi oleh para penjajah yang pernah menguasai negeri ini. Tapi, lawan kita bukan para penjajah itu, melainkan rakyat kita sendiri. Kemalasan kerena kemudahan itulah yang merusak negeri ini. 

Bapak, negeri kau impikan rasanya seolah menjauh dari impianmu. Orang bilang bahwa suatu perubahan di mulai dari yang terkecil. Jadi, biar aku menjadi salah satu percikan cahaya yang menerangi generasi ini. Meskipun teknologi terus maju dan kenyamanan selalu ada bukankah kita sebagai manusia yang menciptakan teknologi tidak boleh dikendalikan oleh teknologi itu sendiri. Aku akan membuat mereka sadar bahwa yang menentukan masa depan kita sendiri adalah diri sendiri sehingga aku akan memanfaatkan setiap kemudahan dengan benar. Bukannya malah terlena dan menghancurkan diri mereka sendiri. 

Aku tidak ingin mengecewakan impian Bapak, aku akan berusaha keras untuk mewujudkan impian Bapak untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan bernegara sesuai Dengan isi tercantum UUD 1945. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada Bapak pahlawan Indonesia. Seorang pahlawan pendidikan yang kami banggakan. Beristirahatlah dengan tenang di sana Bapak.


Dari murid - Anggun Mustika Sari

DEAR BAPAK TAN MALAKA DARIKU PUTRI NUTRININGSIH ANDINI

Dear, Bapak Tan Malaka


Dari hatiku yang terdalam, saya ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas semua jasa-jasa engkau selaku pahlawan nasional bangsa Indonesia. Rasa cintamu kepada negeri ini sangat membekas di hati para rakyat Indonesia. Semua jasamu akan selalu diingat dan dikenang oleh kami semua. 

Bapak, saat ini negara tercinta kita masih berhadapan dengan banyak rintangan yang perlu diatasi. Melalui media televisi, sering sekali aku melihat berita pejabat yang melakukan korupsi uang negara dengan nominal ratusan, jutaan, miliaran, bahkan sampai triliunan, fakta ini telahm menjadi makanan sehari-hari kami, si rakyat lemah. Para bajingan hidup dalam kemewahan luar biasa, berfoya-foya dengan membuang-buang harta haram dengan bangga. Dasar manusia tidak tahu malu! Di sisi lain, para rakyat lemah membanting tulang demi keluarga tercinta yang telah menunggu di rumah. Rela bertaruh nyawa demi memberi makan keluarga dan para bajingan. 

Tidak lupa juga dengan kualitas pendidikan yang masih jauh di bawah rata-rata juga menjadi perbincangan hangat di negara tercinta ini, ada yang ingin melanjutkan pendidikan, tetapi terhalang biaya, ada yang mampu, tetapi memilih untuk putus sekolah, ada yang mati-matian mengejar beasiswa, tetapi kalah dengan orang dalam. 

Bapak, engkau dikenal sebagai seorang pejuang yang gigih, berani, dan pantang menyerah. Engkau rela hidup untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan melawan segala bentuk penindasan. Bapak, apakah engkau tidak merasa miris dengan negara ini? Andai sajae,engkau masih berada di sini, tidak akan mungkin hal ini terjadi. Engkau dapat menunjukkan bahwa kemerdekaan dan keadilan sosial dapat diperjuangkan dengan gigih dan pantang menyerah. Engkau dapat mengemukakan bahwa pentingnya kesadaran politik dan partisipasi rakyat merupakan pelajaran untuk lebih aktif dalam proses demokrasi. Engkau juga dapat menekankan betapa penting kemandirian, semangat, kegigihan, kejujuran dan pengembangan pola pikir yang lebih maju dan bermanfaat. 

Bapak, aku berjanji akan merubah negara ini dengan menjadi yang lebih baik dan maju. Aku tidak akan lelah mengajak para generasi penerus untuk selalu mengobarkan api semangat perjuangan yang telah engkau kobarkan. Dari mulai diri sendirilah menjadi murid yang harus menjunjung nilai kejujuran, karena korupsi berawal dari ketidakjujuran, serta meningkatkan kualitas pendidikan yang masih dibawah rata-rata ini. 

Terima kasih atas semua jasa Bapak. Semangat Bapak dalam melawan ketidakadilan dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi muda untuk selalu berjuang dan menciptakan perubahan yang positif di masyarakat.


 Dariku, Andini

SURAT UNTUK R.A. KARTINI DARI NADIVA PUTRIYANA

Yang Terhormat R.A. Kartini Terima kasih atas segala jasa-jasamu yang telah menjadi pahlawan emansipasi wanita Indonesia, Ibu.  Berkat kegig...