SURAT UNTUK SANG KSATRIA PEMBERANI PANGERAN DIPONEGORO DARI FATHI NUROTUN NAFIAH

 Untuk Pangeran Diponegoro, sang Ksatria Pemberani

Di tempat peristirahatan abadi


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang terhormat Pangeran Diponegoro. Terima kasih, Pangeran... atas jasa dan perjuanganmu yang begitu besar bagi bangsa Indonesia. Pangeran telah berjuang dengan gagah berani melawan penjajahan demi tanah air tercinta. Semangat dan pengorbanan Pangeran menjadi cahaya di tengah kegelapan bagi generasi muda saat ini. Namun, Pangeran, hari ini izinkan saya untuk mengadu. Negeri yang dulu Pangeran perjuangkan dengan darah dan air mata kini tengah terluka dengan cara yang berbeda. Bukan lagi karena penjajah berseragam, tapi oleh tangan bangsanya sendiri. Korupsi merajalela, alam rusak karena keserakahan, dan generasi muda termasuk saya, kadang terlena oleh dunia maya yang membuat kami lupa jati diri. Banyak teman saya lebih mengenal selebriti terkenal daripada pahlawan tanah air. Kadang saya merasa malu karena kemerdekaan yang Pangeran menangkan perlahan kehilangan makna di hati kami. 

Melihat hal itu sungguh menyedihkan, seolah semangat perjuanganmu dan para pahlawan lain tidak berarti dan dilupakan begitu saja. Dengan nama, Raden Mas Ontowiryo seorang Pangeran Diponegoro yang senantiasa hidup dalam ingatan bangsa ini. Saya selalu teringat kisah perjuanganmu dalam Perang Jawa. Pangeran memimpin rakyat melawan penjajah Hindia Belanda yang jauh lebih kuat. Meski pasukan Pangeran kalah jumlah, Pangeran tak pernah gentar. Dalam semboyan "Sadumuk bathuk sanyari bumi ditohi tekan pati" yang engkau kobarkan, kini menjadi pengingat bagi kami akan arti pentingnya membela tanah air. Semangat perjuangan, yang lahir dari kejujuran, kepedulian, dan kebangsaan, terus hidup dalam diri setiap anak bangsa. Keteguhan hatimu membuatku kagum meski akhirnya ditangkap dan diasingkan, tetapi semangatmu tak pernah padam Pangeran. 

Kisah hidupmu membuat saya sadar bahwa perjuangan tidak selalu harus dengan pedang, tapi bisa dengan pena, dengan ilmu, dengan kejujuran, dan dengan keberanian menolak ketidakadilan. 

Saya ingin meniru semangat Pangeran yang teguh, jujur, cinta tanah air, dan tak gentar melawan kebatilan, meski harus berjalan sendirian. Mungkin saya belum bisa melakukan hal besar seperti Pangeran, tapi saya ingin mulai dari hal kecil, belajar sungguh- sungguh, berbuat jujur, dan tidak menyerah pada keadaan. Jika dulu Pangeran bertempur di medan perang, maka saya akan bertempur di medan ilmu, melawan kebodohan, ketidakjujuran, dan kemalasan diri sendiri. 

Saya ingin menjadi bagian dari generasi yang bisa menjaga negeri ini tetap kuat dan berbuat sebaik-baiknya agar bisa menjadi bangsa yang Pangeran impikan, bangsa yang adil, bermartabat, dan sejahtera. Saya tidak ingin mengecewakan Pangeran dan para pahlawan lain yang telah rela berkorban demi negeri ini. 

Terima kasih, Pangeran Diponegoro atas jasa dan keteladananmu, semangatmu akan selalu hidup dalam hati kami, walau tak kasat mata engkau telah membimbing langkah kami untuk terus berjuang dengan cara kami sendiri.

 Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dengan hormat dan rasa bangga, (Fathi Nurotun Nafiah)

SURAT UNTUK R.A. KARTINI DARI NADIVA PUTRIYANA

Yang Terhormat R.A. Kartini


Terima kasih atas segala jasa-jasamu yang telah menjadi pahlawan emansipasi wanita Indonesia, Ibu. 

Berkat kegigihanmu, kami kaum perempuan di masa sekarang bisa menikmati kebebasan untuk bersekolah setinggi-tingginya dan berkarya tanpa batasan. 

Di tempat peristirahatan terakhir, semoga surat ini sampai kepada engkau wahai Ibu Kartini. Kami, generasi penerus di Indonesia, ingin bercerita tentang kondisi negara ini. Kami mohon maaf, sepertinya perjuangan berat yang telah Ibu lakukan, belum sepenuhnya usai. Terdapat deskriminasi kekerasan pada perempuan dan kesenjangan gender. Sungguh, kami tak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu, Ibu. Saat menghadapi tembok tebal yang memisahkanmu dari dunia luar dan kesempatan untuk berkembang. Namun, di balik penderitaan itu, ada semangat luar biasa yang tidak pernah padam. Engkau berani menentang pandangan masyarakat dan menyuarakan pendapat tentang hak-hak perempuan, didukung oleh kecerdasan dan wawasanmu yang luas itu wahai Ibu Kartini. Jika saja Ibu tahu, sekarang kami para perempuan, sudah bisa sekolah setinggi-tingginya. Kami bisa menulis, membaca, dan menyuarakan pendapat, itu semua berkat perjuanganmu Ibu. Tetapi, entah bagaimana ada tantangan baru yang membuatku khawatir. Fakta-fakta yang ada mengenai dari perempuan yang sekarang ini lebih mementingkan sosmed daripada belajar dan kekerasan terhadap wanita semakin merajalela karena menganggap wanita itu makhluk yang lemah. 

Dahulu, Ibu melawan tradisi yang menganggap wanita hanya boleh di dapur dan tidak perlu sekolah. Kini, bentuk kekerasannya berubah. Kami masih sering mendengar berita tentang perempuan yang menjadi korban kekerasan, bahkan di dunia maya. Kata-kata jahat yang dilontarkan di media sosial bisa membuat perempuan merasa lemah dan tidak berharga. Pandangan bahwa perempuan adalah kaum yang lemah juga masih ada, bahkan diperkuat di platform digital ini. Meski begitu, aku tidak ingin membuatmu khawatir, Ibu. Kami ingin menggunakan media sosial untuk menginspirasi, untuk melawan deskriminasi, dan untuk terus menggaungkan semangatmu. Kami belajar dari kata-katamu, "Habis Gelap Terbitlah Terang" untuk terus mencari cahaya di tengah tantangan ini. Kami tahu, perjuangan ini takkan berakhir. Kami akan terus melangkah, seperti yang Ibu inginkan. Ibu Kartini, semangatmu telah menjadi motivasi bagi kami untuk terus berjuang. Kami bertekad untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah engkau rebutkan. Kami akan terus belajar, berkarya, dan menjadi perempuan yang mandiri, cerdas, dan bermartabat. Kami akan terus berusaha melawan segala bentuk ketidakadilan dan deskriminasi yang masih ada agar impianmu tentang kesetaraan sejati bisa terwujud sepenuhnya. 

Sekali lagi, terima kasih wahai Ibu Kartini. Engkau adalah inspirasi abadi bagi seluruh perempuan Indonesia. Kami akan terus berjuang agar engkau bangga melihat "Kartini-Kartini" baru yang terus berkembang.


Kartini Muda- Nadiva Putriyana (2025)

SURAT UNTUK BAPAK PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA DARI MURID ANGGUN MUSTIKA SARI.

Teruntuk Bapak Ki Hadjar Dewantara


Halo, Bapak Pendidikan apakah engkau baik-baik saja di sana?

Bapak sekarang sudah berada di tempat yang tenang. Tapi, Bapak saat ini pasti tengah merenung dalam kesedihan bukan?

Bapak, aku ingin berkeluh kesah tentang apa yang aku rasakan dari dalam lubuk hati terdalam. Mungkin Bapak yang di sana sudah mengetahui apa ingin ku sampaikan. Aku tidak pernah lupa apa yang engkau perjuangkan mati- matian kepada anak-anak seperti kami untuk mendapatkan kebebasan untuk bisa belajar atau untuk bisa bermimpi berekspresi dalam pendidikan.

Ingatkah Bapak pernah membangun taman siswa. Hanya berawal dari taman siswa itu membuka jalan bagi kami pada suatu akses pendidikan. Pendidikan tanpa memandang suatu status. Aku salah satu murid yang telah menerima hasil jerih payahmu Bapak, saat ini aku berada di salah satu sekolah kejuruan dengan jurusan akuntansi jadi saat aku merasakan sebelas tahun pendidikan. 

Kata terima kasih tak akan pernah cukup untuk kepada Bapak yang telah memberikan kesempatan pada kami untuk mendapatkan suatu hak. Hak kami sebagai manusia untuk mendapatkan suatu pendidikan. Hanya saja kami telah menyia-nyiakan apa engkau berikan. Pada saat ini kami tidak tahu budi. Kami telah terlena akan kesenangan-kesenangan hingga melupakan apa yang terjadi di masa depan yang akan kami jalani. Kami lebih suka berlarut-larute bermain game ataupun menonton Tiktok dan YouTube dengan konten yang tidak memiliki edukasi sama sekali. Kami yang seharusnya membuka buku tapi malah lebih suka handphone. Mereka yang berfokus untuk belajar malah suka berkutat dengan sosmed, bahkan PR yang seharusnya dikerjakan denga kemampuan sendiri mereka lebih percaya pada AI tanpa memikirkan apa isi di dalamnya. Zaman memang telah berubah akankah teknologi-teknologi ini memberikan kemudahan atau pembodohan.

Ingatkah Bapak? Engkau pernah memiliki prinsip "Ing Ngarso Sung Tulodho" yang di depan memberikan contoh teladan. Di zaman siapa yang bisa kami jadikan sebagai contoh? Akankah setiap selebgram populer yang menjadi sorotan atau seorang guru yang dengan sabar menasehati mereka?

"Ing Madya Mangun Karso" yang di tengah memberikan semangat. Siapa yang akan memberikan semangat kepada kami ketika para murid telah pudar rasa hormat mereka kepada guru. 

"Tur Wuri Handayani" yang di belakang memberikan dorongan. Siapa yang mendorong kami untuk masa depan, jika mereka begitu malas untuk melakukan suatu inovasi. Hanya karena kemudahan kitae melupakan suatu hal paling penting yaitu keberhasilan yang lahir dari usaha. Dunia seolah lupa bagaimana dibodohi oleh para penjajah yang pernah menguasai negeri ini. Tapi, lawan kita bukan para penjajah itu, melainkan rakyat kita sendiri. Kemalasan kerena kemudahan itulah yang merusak negeri ini. 

Bapak, negeri kau impikan rasanya seolah menjauh dari impianmu. Orang bilang bahwa suatu perubahan di mulai dari yang terkecil. Jadi, biar aku menjadi salah satu percikan cahaya yang menerangi generasi ini. Meskipun teknologi terus maju dan kenyamanan selalu ada bukankah kita sebagai manusia yang menciptakan teknologi tidak boleh dikendalikan oleh teknologi itu sendiri. Aku akan membuat mereka sadar bahwa yang menentukan masa depan kita sendiri adalah diri sendiri sehingga aku akan memanfaatkan setiap kemudahan dengan benar. Bukannya malah terlena dan menghancurkan diri mereka sendiri. 

Aku tidak ingin mengecewakan impian Bapak, aku akan berusaha keras untuk mewujudkan impian Bapak untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan bernegara sesuai Dengan isi tercantum UUD 1945. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada Bapak pahlawan Indonesia. Seorang pahlawan pendidikan yang kami banggakan. Beristirahatlah dengan tenang di sana Bapak.


Dari murid - Anggun Mustika Sari

SURAT UNTUK SANG KSATRIA PEMBERANI PANGERAN DIPONEGORO DARI FATHI NUROTUN NAFIAH

 Untuk Pangeran Diponegoro, sang Ksatria Pemberani Di tempat peristirahatan abadi Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang terh...