Yang Terhormat Raden Dewi Sartika
Terima kasih atas segala jasa dan perjuanganmu, Ibu Raden Dewi Sartika. Engkaulah cahaya pertama yang memecah gelapnya batasan pendidikan bagi perempuan di masa kolonial. Berkat pengorbananmu, perempuan Indonesia akhirnya mendapatkan hak untuk belajar, berpikir, dan tumbuh menjadi manusia yang berharga. Tanpa langkah pemberanianmu mendirikan sekolah perempuan pertama di tanah Sunda, mungkin sampai hari ini banyak perempuan tidak bisa membaca, tidak bisa menulis, bahkan tidak bisa memahami bahwa dirinya berharga.
Namun, Ibu, ada kenyataan yang ingin kami ceritakan. Meski pendidikan kini telah lebih terbuka, masih banyak perempuan yang terhalang untuk berkembang. Fakta menunjukkan bahwa angka kekerasan terhadap perempuan masih tinggi, dan kasus pernikahan anak masih terjadi di berbagai daerah. Di beberapa tempat, perempuan masih dianggap hanya pantas berada di dapur, sumur, dan kasur. Banyak dari kami yang ingin sekolah tinggi, tetapi terkendala ekonomi, tekanan keluarga, atau lingkungan yang menganggap pendidikan bukan hak bagi perempuan. Kadang rasanya dunia berjalan mundur, Ibu. Seolah perjuanganmu belum selesai sepenuhnya di zaman ini.
Ibu Sartika, kami tahu betapa besar perjuanganmu menghadapi adat dan masyarakat yang tidak percaya bahwa perempuan pantas mendapatkan pendidikan yang sama. Engkau tidak hanya mendirikan sekolah, tetapi juga membuka pikiran banyak orang bahwa perempuan berhak menggenggam masa depan sendiri. Semangatmu tidak rapuh meski engkau harus melawan kebiasaan masyarakat yang keras. Engkau tidak berhenti hanya karena dianggap aneh, membangkang, atau melawan kodrat. Justru dari situlah engkau membuktikan bahwa perempuan bukan makhluk lemah, melainkan kuat jika diberikan kesempatan.
Kami ingin menjadi perempuan seperti itu, Ibu. Perempuan yang tidak takut menghadapi dunia, tidak takut melanjutkan perjuanganmu. Kami ingin menyuarakan pendapat, belajar setinggi mungkin, dan berdiri tegak sebagai manusia yang bermartabat. Kami ingin agar perempuan hari ini tidak lagi menangis karena dibatasi, dilecehkan, atau dianggap tidak mampu. Kami ingin agar tidak ada lagi gadis kecil yang dipaksa menikah sebelum sempat bermimpi.
Karena itu, Ibu Sartika, kami berjanji. Kami akan belajar dengan sungguh-sungguh. Kami akan menjaga nama baikmu dengan terus memperjuangkan hak perempuan. Kami tidak akan membiarkan pengorbananmu sia-sia. Kami akan melangkah maju, kuat, dan penuh keberanian, seperti engkau dahulu. Terima kasih, Ibu Raden Dewi Sartika, pahlawan kami. Semoga perjuanganmu terus menjadi nyala api dalam hati kami. Kami akan meneruskannya. Kami tidak akan mengecewakanmu.
---Mas Kurun Inajati (2025)---